Hanya Hari yang Biasa
Selasa, 20 Agustus 2019
6 Komentar
Ini adalah cerita
beberapa hari lalu sebelum 17 agustus.
Selepas melewati jalan Imogiri Timur ke jalan Jejeran-Pleret, tentu yang terlihat di kanan kiri jalan adalah deretan kios-kios onderdil
dan suku cadang motor baik baru maupun bekas. Tidak berlebihan bila kemudian
tempat ini disebut sebagai surganya anak motor. Teman saya lulusan SMK di
Ponorogo, ketika berbincang perihal Jogja, yang diketahui selain Malioboro, Borobudur, dan
alun-alun memang adalah Pleret. Pleret dan segudang serba-serbi per-motoran-nya
tentu saja maksudnya.
Memacu pelan motor,
saya menyusuri jalanan yang lumayan kecil dibanding jumlah kendaraan yang
berlalu lalang. Seketika penglihatan saya teralihkan pada mas-mas yang berjalan
santai di depan kios-kios onderdil mengenakan kaos hitam dengan sablon deus Ex Machina
dibagian punggung.
“Barangkali mas yang
itu cari suku cadang untuk motor vespanya,” pikir saya dalam hati sembari terus
melaju pelan memacu motor.
Mendekati pasar Klitikan--pasar yang lagi-lagi khusus menjual suku cadang motor baru maupun bekas.eh bekas aja kayaknya deng!!--saya
membelok ke arah kiri menuju dusun Kanggotan tempat teman saya. Kami memang
berencana akan meneruskan project penelitian kami di daerah Piyungan. Lagipula, motor yang
saya gunakan ini sebetulnya juga miliknya yang saya pinjam.
Singkatnya, setelah
saya menemui teman saya di tempatnya di PPTQ Al-Rusydi, kami langsung tancap
gas menuju Piyungan melewati gang-gang dusun Kanggotan.
Baru beberapa meter
kami melaju, disebuah belokan gang kami hampir bertubrukan dengan bocah kecil, sepertiya
berusia sekitar 7 tahunan yang memacu sepedanya cukup cepat dengan tangan
kirinya memegang bendera merah putih kecil yang terbuat dari bahan plastik. Sepertinya
ia mendapatkannya dari sisa yang digantung warga diantara gang-gang.
Walaupun sekejap kami
saling kagok, anak kecil tersebut lantas kembali memedal sepedanya melaju terus. Begitupun
teman saya, kembali menggeber motornya. Saya di jok belakang hanya sedikit tersenyum sambil berpikir bahwa
nyatanya nasionalisme bisa begitu saja tertanam dengan hal-hal kecil. Tradisi menghias
lingkungan dengan penak-pernik kemerdekaan agaknya manjur untuk
mengenalkan nasionalisme untuk semua kalangan masyarakat Tidak semua tapi wkwk....
Melaju lagi belum
begitu jauh dari kejadian kecil tadi, di seberang jalan di depan sebuah rumah, perhatian saya teralihkan
pada seorang ibu yang sedang mengangkat anaknya yang sebelah kakinya tercelup sisa
cat. Sepertinya sisa cat untuk mengecat pagar-pagar tembok rumahnya di depan
rumah. Dapat ditebak, kemungkinan pagar-pagar yang diperbarui catnya tersebut juga dalam
rangka menyambut hari kemerdekaan.
Saya kembali
tersenyum, batin saya tentram. Sebagai sekadar anak kost-an di kota orang, saya
cuma bisa membatin, “Dirgahayu Indonesia-ku. Semoga di ulang tahun ke-74 ini
menjadi awal elan kebangkitan kita menjadi negara yang benar-benar berdaulat, adil,dan
makmur. Merdeka!”.
Kejadian yang sangat biasa di atas terjadi beberapa hari yang lalu menjelang 17 Agustus. Iya, memang sangat biasa, tapi entah apa yang menyebabkan cuilan-cuilan peristiwa di atas terus menempel di benak dan kepala saya. makanya saya tulis di sini.
Kejadian yang sangat biasa di atas terjadi beberapa hari yang lalu menjelang 17 Agustus. Iya, memang sangat biasa, tapi entah apa yang menyebabkan cuilan-cuilan peristiwa di atas terus menempel di benak dan kepala saya. makanya saya tulis di sini.

ditempatku juga ruamai banget euforia peringatan hari Kemerdekaan, dari anak kecil hingga lansia. semuanya gotong royong menghias gang-gang rumah, meramaikan dengan berbagai lomba :)
BalasHapus17-an memang suasana yg selalu ditunggu setiap tahun selain lebaran....wkwkwk
HapusSemoga saja 74 tahun ini menjadikan indonesia makin maju dan damain ya....
BalasHapusRasanya senang karena rasa nasionalisme masih melekat di jiwa tiap masyarakat indonesia.😊
Semoga saja. Menuju Indonesia Emas
HapusSama juga, sebagai perantau, saya juga nggak begitu bisa merasakan euforia "Agustusan" di rumah sendiri. Tapi sempet liat status WA dari temen-temen dan orang rumah. Alhamdulillah, nggak kalah meriah dengan pesta kemerdekaan di tanah rantau.
BalasHapusIya bener gan....cuma kita tak terlalu berperan kalau di tanah rantau
Hapus