Hening yang Nyaring
Apa indera yang paling dekat dengan hati?
Saya beberapa kali merasakannya, menginginkan keheningan. Ketika saya mulai dilanda keresahan, overthingking, ataupun stres, saat itulah keheningan tak ubahnya oase yang saya butuhkan segera, sebagai bentuk me time dalam kesendirian. Barangkali kebanyakan dari kamu juga demikian.
Dalam me time yang saya maksud, sejatinya kebanyakan dari kita membutuhkan keheningan yang sebenarnya tidak benar-benar hening. Hening yang kita butuhkan adalah hening yang nyaring.
Seperti saya yang acapkali merenung sambil ditemani playlist musik favorit yang saya dengar khusuk melalui earphone. Kasus lainnya adalah saat momen mengheningkan cipta dalam upacara bendera, alih-alih diberi waktu yang benar-benar hening, kita malah disuguhi lantunan lagu mengheningkan cipta yang sendu. Artinya adalah, bahwa yang kita butuhkan bukanlah keheningan dalam artian sebenarnya, melainkan keheningan paripurna dengan bantuan sesuatu yang dirasa relate dengan yang kita resahkan—dalam hal ini adalah gelombang audiosonik yang menghangatkan.
Ketika sedang galau soal urusan asmara, biasanya seseorang akan mendegarkan lagu dengan tema serupa; ketika seseorang merasa hidupnya useless atau stagnan, biasanya akan mendegarkan lagu-lagu tentang penyemangat hidup, atau lagu-lagu mental health; ataupun ketika seseorang yang merasa problem hidupnya kacau balau barangkali ia hanya butuh hening dengan mendengar hujan yang menghujam, suara jangkrik, kran kamar mandi yang sedikit terbuka, suara kipas yang membelai udara, riak sungai selepas hujan, decit rel kereta, kendaraan yang datang pergi di jalanan, detak jam dinding, denting ajal, tiupan sangkakala atau apapun. Apapun!
Agaknya indera pendenar adalah indera yang paling paling dekat dengan hati, menjadi yang pertama ikut mewarnai suasana hati dengan lantaran suara.
Magisnya suara—dalam hal ini musik—bisa kita lihat dalam film Coco, dalam film garapan Disney tersebut kita bisa melihat bagaimana Miguel menyelamatkan arwah kakek buyut dan memperbaiki garis keturunan keluarga besarnya lantaran nanyiannya di depan Mama Coco, neneknya. Miguel menyanyikan lagu Remember Me, lagu yang dulu sering dinyanyikan Mama Coco dan mendiang Ayahnya. Terlepas dari kenyataan bahwa Coco hanyalah film fiksi, tetapi kita bisa belajar banyak dari sebuah film, bukan?
Beberapa orang yang saya kenal bahkan menolak membagikan playlistnya di Spotify atau aplikasi serupa karena takut kepribadiannya—yang berhubungan dengan dirinya yang terdalam— diketahui orang lain. Intinya mereka tak mau orang lain terlalu tahu soal dirinya yang malah merisak alih-alih memperbaiki. Mereka juga memercayai bahwa playlist musik adalah bagian diri mereka yang lainnya yang harus disembunyikan dari ketelanjangan juga.
Saya jadi berspekulasi saya bahwa "kamu adalah apa yang kamu dengarkan". Kita selalu nyaman mendengar sesuatu yang relate dengan hidup kita dan terhanyut olehnya kemudian.
Namun, saran saya sih jangan semua yang relate di telinga diterima begitu saja! Harus benar-benar dengan persetujuan hati yang paling dalam. Bisa saja kita relate dengan sesuatu, mendengarnya secara saksama, dan memercayainya begitu saja, tetapi tidak relate dengan kata hati. Setelah dipikir-pikir lagi, ternyata yang barusan didengar adalah bisikan setan.
Hahaha....

Belum ada Komentar untuk "Hening yang Nyaring"
Posting Komentar